Senin, 26 Oktober 2009

PERKEMABANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA MULAI TAHIN 1947-SEKARANG SEBAGAI REFLEKSI PEMBELAJARAN MATEMATIKA MASA DEPAN

PENDAHULUAN
Sejarah merupakan sebuah kajian masa lalu. Dalam sejarah terdapat-terdapat hal-hal yang penting untuk dipelajari sehingga bisa dijadikan refleksi untuk masa depan. Kata sejaran itu berasal dari bahasa arab syajaratun yang artinya pohon. Atau dalam bahasa Inggris disebut history.
Sejarah pendidikan di Indonesia itu sangat penting untuk dikaji. Pendidikan di Indonesia dimulai pada zaman kerajaan hindu-budha. Pada zaman ini pendidikan sudah dikenal di Indonesia, meskipun masih dalam bentuk yang sederhana. Pada mas hindu-budha ini pendidikan berupa tempat bertapa (pertapa). Tempat ini dikhususka untuk orang bertapa. Menahan segala hawa nafsu dan amarah terhadap dunia. Kemudian setelah masa hindu-budha pendidikan masa kerajaan islam. Pendidikan dimasa ini tidak jauh beda dengan pendidikan kerajaan hindu-budha. Dimana kegiatan pendidikan masih berkaitan dengan dengan aktifitas keagamaan. Ilmu yang deipelajari masalah islam. Muncul istilah pondok yang berasal dari kata funduk (kotak).
Kemudian setelah masa islam, muncul masa kolonial. Masa penjajahan belanda dan jepang. Pada masa ini pendidikan sudah berbeda dengan masa sebelumnya. Artinya dalam aktifitas-aktifitas pendidikan tidak hanya berkaitan dengan masalah-masalah agama, tetapi lebih luas lagi. Mengenai kejadian-kejadian yang ada di kehidupan sehari-sehari.
Tetapi pendidikan dimasa ini sungguh menyedihkan. Artinya tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Belanda memberikan pendidikan hanya untuk golongan-golongan priyayi. Untuk golongan menengah ke bawah tidak mendaptkan pendidikan sebagaimana golongan priyayi. Kemudian baru setelah masa kolonial pendidikan di Indonesia mampu berkembang dengan baik.
Dalam setiap pendidika tentu ada sebuah kurikulum. Seba kurikulum merupan bagian ynag tidak bisa dipisahkan dengan pendidika. Kurikulum dijadikan sebagi acuan bagaiman pembelajarn dalam setiap pendidikan berlangsung. Kurikulum di Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami perkembangan. Sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini tentunya juga mempengaruhi terhadap perubahan kurikulum. Dan perubahan kurikulum akan mempengaruhi perubahan atau perkembangan pembelajaran yang ada.
Makalah ini mencoba membahas masalah perkembangan pemebelajaran matematika. Perkembangan pembelajaran matematika dapat diketahui denga n memperhatikan perkembangan kurikulum dari tahun ke tahun yang sebelumnya kita lihat dulu perkembangan pendidikan di Indonesia.
PEMBAHASAN
A. Sejarah Pendidikan Indonesia
Pendidikan sejatinya lahir atas kebutuhan manusia itu sendiri, yaitu ketika manusia dalam usaha mempertahankan hidupnya mulai melakukan proses belajar pada lingkungan sekitarnya. Pendidikan mustahil lahir tanpa perkembangan manusia, dan manusia pun akan runtuh tanpa pendidikan. Melalui pendidikan, manusia dapat mengenal alam dan sosial di sekitarnya, menemukan hubungan-hubungan diantaranya, mengambil manfaat bagi keberlangsungan hidup spesiesnya, dan menitipkan pengetahuan tersebut bagi generasi selanjutnya. Dengan kata lain pendidikan adalah keseluruhan proses belajar manusia itu sendiri dalam mempertahankan hidupnya sebagai manusia. Atau sederhananya Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.
1. Era Kolonial Belanda
Di Indonesia, pendidikan formal pertama kali diperkenalkan oleh pemerintah kolonial lewat politik ethis. Politik yang sering disebut politik balas budi ini mencakup 3 hal, yakni Irigasi, Transmigrasi dan Edukasi. Ketiga cakupan itu adalah untuk melanggengkan kekuasaan kolonial. Ditahap politik ethis inilah lahir beberapa sekolah yang didirikan Belanda, yakni Holland Inland School (HIS-setaraf SD); Meer Uitgebried Lager Onderwigs (MULO-setaraf SMP); Algemene Middelbare School (AMS-setaraf SMA). Sedangkan untuk taraf perguruan tinggi, Belanda mendirikan Sekolah Tinggi Hukum, Sekolah Tinggi Kedokteran (Stovia) dan Sekolah Tinggi Teknik. Melihat kondisi demikian, orang-orang yang kritis terhadap sistem penjajahan tetap lahir. Mereka, yang tentunya berasal dari keturunan priyayi, berusaha keluar dari formalitas pendidikan yang penuh dengan kepentingan penguasa dan mengambil spirit yang tertanam dalam esensi pendidikan tersebut untuk tujuan kemerdekaan, walau dengan fondasi ideologi yang berbeda-beda. Beberapa diantaranya adalah Ki hajar Dewantara yang membentuk Lembaga Taman Siswa, dan KH Ahmad Dahlan yang membentuk Lembaga Muhammadiyah. Lembaga-lembaga ini kemudian melakukan perluasan pendidikan untuk semua kalangan dan menitipkan nilai-nilai didalamnya.
2. Era Pendudukan Jepang
Pendudukan Jepang selama 3,5 tahun pada hakikatnya telah banyak merombak struktur pendidikan kaum pribumi. Kebijakan pertamanya adalah dengan menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan menggantikan bahasa Belanda. Selanjutnya Jepang juga mengintegrasikan sistem pendidikan, dalam arti kata menghapus eksklusifitas pendidikan kaum priyayi sekaligus mencabut biaya pendidikan dasar (Kokumin Gakko/Sekolah Rakyat) bagi penduduk non-priyayi. Tujuannya tak lain untuk menyediakan pembantu-pembantu administratif. Sekolah Rakyat ini mempunyai lama studi 6 tahun (berbeda dengan HIS yang hanya sampai 5 tahun). Sekolah lanjutan terdiri dari Shoto Chu Gakko (setaraf SMP) dan Koto Chu Gakko (setaraf SMA) dan sekolah kejuruan dibidang pertukangan, pelayaran, pertanian dan teknik. Kebijakan-kebijakan ini kemudian terbukti telah menumbuhkan rasa Nasionalisme-praktis kaum pribumi.
Jepang, karena ketakutan lahirnya paham Indonesia Raya, akhirnya kembali juga pada strategi Nipponize dengan melakukan pelatihan pada guru-guru yang mengajar. Pelatihan tersebut mencakup: Indoktrinasi Hakko Ichiu tentang ideologi Fasisme Asia, Nippon Seisyin tentang kemiliteran Jepang, Adat istiadat Jepang, Olahraga Jepang, dan Ilmu Geopolitik. Tak cukup disitu. Jepang juga mengharuskan setiap siswa untuk menyanyikan lagu kebangsaan Jepang (kimigayo), mengibarkan bendera Jepang, melakukan senam Jepang, Menghormati Kaisar Jepang (Tenno Heika), dan mengucapkan sumpah setia untuk cita-cita Asia Raya.
Sejarah pendidikan era kolonial, baik Belanda maupun Jepang, telah memperlihatkan pada kita, bahwa sistem pendidikan formal sudah mulai dipakai oleh pemerintahan berkuasa untuk menundukkan rakyat yang dikuasai, baik lewat nilai ekonomis (biaya sekolah yang tinggi), maupun nilai politis (pendidikan kepatuhan). Namun dibalik itu, represifitas dalam pendidikan juga telah terbukti menimbulkan perlawanan dari rakyat yang dikuasai yang berakhir dengan kemerdekaan.
3. Era Kemerdekaan: Menata Pendidikan Nasional
Kemerdekaan nasional Indonesia sejatinya dimulai dengan diletakkannya konstitusi sebagai pedoman dasar untuk melaksanakan kemerdekaan tersebut. Konstitusi kemerdekaan kita, UUD 45, telah menjadi pedoman yang nyaris sempurna. Dalam konstitusi ini disebutkan bahwa Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
Yang paling mendasar dalam pedoman pendidikan era kemerdekaan adalah mengubah paham individualisme menjadi paham perikemanusiaan yang tinggi. Disisi lain, metodologi pendidikan juga sudah banyak mengadopsi metodologi dialogis-demokratis. Hal ini terlebih didukung dengan perkembangan demokrasi diluar pendidikan.
Bahkan dalam Kepres RI No.145 tahun 1965 tentang Pokok-pokok Sistem Pendidikan Nasional Pancasila disebutkan bahwa: “Tujuan Pendidikan Nasional kita baik yang diselenggarakan oleh pihak Pemerintah maupun oleh pihak Swasta, dari Pendidikan Prasekolah sampai Pendidikan Tinggi, supaya melahirkan warga negara Sosialis Indonesia yang susila, yang bertanggung jawab atas terselenggaranya Masyarakat Sosialis Indonesia, adil dan makmur baik spiritual maupun materiil dan yang berjiwa Pancasila, yaitu: (a) Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa, (b) Perikemanusiaan yang adil dan beradab, (c) Kebangsaan, (d) Kerakyatan, (e) Keadilan Sosial.
4. Era Soeharto Sebagai Era Manusia Robot
Sangat rumit untuk mendefinisikan sistem pendidikan zaman Soeharto. Hal ini terutama dikarenakan paradigma ganda yang diterapkannya pada Sistem Pendidikan. Disatu sisi pemerintah ingin meniru sistem pendidikan ala Barat yang liberal, disisi lain mempergunakannya untuk kepentingan kekuasaan.
Yang terlihat jelas dalam masa-masa pemerintahannya adalah bagaimana Soeharto menggunakan Pendidikan untuk indoktrinasi Pancasila secara berlebihan. Semua kurikulum, baik untuk peserta didik maupun untuk tenaga didik, selalu terselip materi P4 (Pedoman Pengamalan Penghayatan Pancasila). Penanaman yang berlebihan ini sebenarnya disengaja untuk menyebar pemahaman di masyarakat bahwa Pancasila adalah dasar negara, sehingga apapun yang dijalankan negara/pemerintahan pastilah berdasar pada Pancasila, dan siapa yang membangkang berarti melanggar pancasila. Apalagi penanaman ini sengaja tidak disertai dengan uraian praktis dari sila ke 5 tentang Keadilan Sosial. Ditambah lagi paham mengagung-agungkan militer yang dikembangkan dalam mata pelajaran seperti PSPB.
Pendidikan zaman Soeharto seyogyanya adalah pendidikan yang memiliki unsur Fasis yang digabungkan dengan nilai Feodal Jawa. Setiap peserta didik, atas nama Pancasila dan UUD 45, diharuskan untuk selalu patuh pada negara. Fondasi yang demikian menjadikan pendidikan Indonesia era Soeharto sangatlah otoriteristik. Selain itu Zaman Soeharto juga telah memulai apa yang dinamakan komersialisasi pendidikan lewat bisnis-bisnis buku, seragam dan alat tulis. Setiap tahunnya buku ganti cetakan. Ada lagi CBSA, yang tiap 3-4 bulannya habis dan harus beli lagi.
5. Era Reformasi: Liberalisasi Besar-besaran.
Zaman Reformasi telah menyediakan ruang yang luas untuk komersialisasi pendidikan. Komersialisasi di era ini tercermin dari semakin banyaknya bisnis yang melingkupi dunia pendidikan, dan mulai terimplementasinya niat buruk pemerintah untuk melepaskan tanggung jawabnya pada dunia pendidikan. Di era ini hanya ada dua kampanye yang terus-menerus dilakukan pemerintah. Yang pertama kampanye tentang mahalnya pendidikan, dan yang kedua kampanye tentang ketidak- sanggupan pemerintah dalam memberikan anggaran pendidikan sesuai amanat UUD, yakni 20% dari APBN. Tak heran, meski program BOS berjalan, namun rata-rata angka pertisipasi sekolah SD sampai SMA masih berkisar 40% dari penduduk usia sekolah.
Zaman ini juga semakin memarakkan keberadaan lembaga-lembaga pendidikan asing yang ingin mendulang rezeki dari slogan-slogan sertifikat internasional. Sedangkan disisi lain kebobrokan metode-metode pendidikan militeristik Orde Baru juga masih bertahan dalam beragam lembaga pendidikan profesi.



B. Sejarah Kurikulum Indonesia
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaannya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
Berikut perjalanan sejarah pengembangan kukulum di negara kita:
1. Kurun waktu 1945 sampai 1968
Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah dalam bahasa Belanda leer plan artinya rencana pelajaran. lebih popular ketimbang curriculum (bahasa Inggris). Perubahan arah pendidikan lebih bersifat politis, dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Sedangkan asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Kurikulum yang berjalan saat itu dikenal dengan sebutan Rencana Pelajaran 1947, yang baru dilaksanakan pada tahun 1950. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok:
· Daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya.
· Garis-garis besar pengajaran.
Orientasi Rencana Pelajaran 1947 tidak menekankan pada pendidikan pikiran. Yang diutamakan adalah : pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.
a. Rencana Pelajaran Terurai 1952
Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952. "Silabus mata pelajarannya jelas sekali. seorang guru mengajar satu mata pelajaran,". Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Panca wardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.
2. Kurun waktu tahun 1968 sampai tahun 1999
a. Kurikulum 1968
Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis, mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Dengan suatu pertimbangan untuk tujuan pada pembentukan manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengeta huan dasar, dan kecakapan khusus. Mata pelajaran dikelompokkan menjadi 9 pokok. Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. "Hanya memuat mata pelajaran pokok saja," . Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tidak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.
b. Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efektif dan efisien. Yang melatar belakangi lahirnya kurikulum ini adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu. Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), yang dikenal dengan istilah "satuan pelajaran", yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan.
Setiap satuan pelajaran dirinci menjadi : tujuan instruksional umum (TIU), tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.
b. Kurikulum 1984
Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut "Kurikulum 1975 yang disempurnakan". Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).
Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Akhirnya penolakan CBSA bermunculan.
c. Kurikulum 1994 Dan Suplemen Kurikulum 1999
Kurikulum 1994 merupakan hasil upaya untuk memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya, terutama kur 19975 dan 1984. Sayang, perpaduan antara tujuan dan proses belum berhasil. Sehingga banyak kritik berdatangan, disebabkan oleh beban belajar siswa dinilai terlalu berat, dari muatan nasional sampai muatan lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Akhirnya, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi.
3. Kurun waktu 1999 sampai sekarang
a. Kurikulum 2004
Sebagai pengganti kurikulum 1994 adalah kurikulum 2004, yang disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok, yaitu: pemilihan kompetensi yang sesuai; spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi; dan pengembangan pembelajaran. KBK memiliki ciri-ciri sebagai berikut : Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal, berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman. Kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi, sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. Struktur kompetensi dasar KBK ini dirinci dalam komponen aspek, kelas dan semester. Keterampilan dan pengetahuan dalam setiap mata pelajaran, disusun dan dibagi menurut aspek dari mata pelajaran tersebut. Hasil belajar mencerminkan keluasan, kedalaman, dan kompleksitas kurikulum dinyatakan dengan kata kerja yang dapat diukur dengan berbagai teknik penilaian. Setiap hasil belajar memiliki seperangkat indikator.
b. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Pelaksanaan KBK masih dalam uji terbatas, namun pada awal tahun 2006, uji terbatas tersebut dihentikan. Dan selanjutnya dengan terbitnya permen nomor 24 tahun 2006 yang mengatur pelaksanaan permen nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi kurikulum dan permen nomor 23 tahun 2006 tentang standar kelulusan, lahirlah kurikulum 2006 yang pada dasarnya sama dengan kurikulum 2004. Perbedaan yang menonjol terletak pada kewenangan dalam penyusunannya, yaitu mengacu jiwanya desentralisasi sistem pendidikan. Pada kurikulum 2006, pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, sedangkan sekolah dalam hal ini guru dituntut untuk mampu mengembangkan dalam bentuk silabus dan penilaiannya sesuai dengan kondisi sekolah dan daerahnya. Hasil pengembangan dari semua mata pelajaran, dihimpun menjadi sebuah perangkat yang dinamakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penyusunan KTSP menjadi tanggung jawab sekolah di bawah binaan dan pemantauan dinas pendidikan daerah dan wilayah setempat.
C. Perkembangan Kurikulum Matematika di Indonesia
Diatas telah dijelaskan perkembangan kurikulum di Indonesia. Dilihat dari masing-masing kurikulum pasti terdapat ciri khas masing-masing. Ciri khas ini memungkinkan adanya perbedaan pembelajarannya dalam kurikulum tersebut. Begitu juga dengan pembelajaran matematika. Sehingga dengan mempelajari perekembangan kurikulum, dapat diketahui perkembangan pembelajaran matematika. Secara singkat perkembangan pembelajaran matematika dapat dibagi sebagai berikut:
1. Pembelajaran Matematika Pertama (1947-1974)
Setelah Indonesia terlepas dari penjajahan kolonial, pemerintah berbenah diri menyusun program pendidikan. Matematika diletakkan sebagai salah satu mata pelajaran wajib. Saat itu pembelajaran matematika lebih ditekankan pada ilmu hitung dan cara berhitung. Urutan-urutan materi seolah-olah telah menjadi konsensus masyarakat. Karena seolah-olah sudah menjadi konsensus maka ketika urutan dirubah sedikit saja protes dan penentangan dari masyarakat begitu kuat. Untuk pertama kali yang diperkenalkan kepada siswa adalah bilangan asli dan membilang, kemudian penjumlahan dengan jumlah kurang dari sepuluh, pengurangan yang selisihnya positif dan lain sebagainya. Kekhasan lain dari pembelajaran matematika tradisional adalah bahwa pembelajaran lebih menekankan hafalan dari pada pengertian, menekankan bagaimana sesuatu itu dihitung bukan mengapa sesuatu itu dihitungnya demikian, lebih mengutamakan kepada melatih otak bukan kegunaan, bahasa/istilah dan simbol yang digunakan tidak jelas, urutan operasi harus diterima tanpa alasan, dan lain sebagainya. Urutan operasi hitung pada era pembelajaran matematika tradisional adalah kali, bagi, tambah dan kurang. ,maksudnya bila ada soal dengan menggunakan operasi hitung maka perkalian harus didahulukan dimanapun letaknya baru kemudian pembagian, penjumlahan dan pengurangan. Urutan operasi ini mulai tahun 1974 sudah tidak dipandang kuat lagi banyak kasus yang dapat digunakan untuk menunjukkan kelemahan urutan tersebut.
Contoh
12:3 jawabanya adalah 4, dengan tanpa memberi tanda kurung , soal di atas ekuivalen dengan 9+3:3, berdasar urutan operasi yaitu bagi dulu baru jumlah dan hasilnya adalah 10. Perbedaan hasil inilah yang menjadi alasan bahwa urutan tersebut kurang kuat.
Sementara itu cabang matematka yang diberikan di sekolah menengah pertama adalah aljabar dan geometri bidang. Geometri ini diajarkan secara terpisah dengan geometri ruang selama tiga tahun. Sedangkan yang diberikan di sekolah menengah atas adalah aljabar, geometri ruang, goneometri, geometri lukis, dan sedikit geometri analitik bidang. Geometri ruang tidak diajarkan serempak dengan geometri ruang, geomerti lukis adalah ilmu yang kurang banyak diperlukan dalam kehidupan sehingga menjadi abstrak dikalangan siswa.
2. Pembelajaran Matematika Pertengahan I (1975-1984)
Dikenal dengan pengajaran matematika modern resminya dimulai setelah adanya kurikulum 1975. Model pembelajaran matematika modern ini muncul karena adanya kemajuan teknologi, di Amerika Serikat perasaan adanya kekurangan orang-orang yang mampu menangani sejata, rudal dan roket sangat sedikit, mendorong munculnya pembaharuan pembelajaran matematika. Selain itu penemuan-penemuan teori belajar mengajar oleh J. Piaget, W Brownell, J.P Guilford, J.S Bruner, Z.P Dienes, D.Ausubel, R.M Gagne dan lain-lain semakin memperkuat arus perubahan model pembelajaran matematika. W Brownell mengemukakan bahwa belajar matematika harus merupakan belajar bermakna dan berpengertian. Teori ini sesuai dengan terori Gestalt yang muncul sekitar tahun 1930, dimana Gestalt menengaskan bahwa latihan hafal atau yang sering disebut drill adalah sangat penting dalam pengajaran namun diterapkan setalah tertanam pengertian pada siswa.
Dua hal tersebut di atas memperngaruhi perkembangan pembelajaran matematika dalam negeri, berbagai kelemahan seolah nampak jelas, pembelajaran kurang menekankan pada pengertian, kurang adanya kontinuitas, kurang merangsang anak untuk ingin tahu, dan lain sebagainya. Ditambah lagi masyarakat dihadapkan pada kemajuan teknologi. Akhirnya Pemerintah merancang program pembelajaran yang dapat menutupi kelemanahn-kelemahan tersebut, munculah kurikulum 1975 dimana matematika saat itu mempnyai karakteristik sebagai berikut :
1. Memuat topik-topik dan pendekatan baru. Topik-topik baru yang muncul adalah himpunan, statistik dan probabilitas, relasi, sistem numerasi kuno, penulisan lambang bilangan non desimal.
2. Pembelajaran lebih menekankan pembelajaran bermakna dan berpengertian dari pada hafalan dan ketrampilan berhitung.
3. Program matematika sekolah dasar dan sekolah menengah lebih continue.
4. Pengenalan penekanan pembelajaran pada struktur.
5. Programnya dapat melayani kelompok anak-anak yang kemampuannya hetrogen.
6. Menggunakan bahasa yang lebih tepat.
7. Pusat pengajaran pada murid tidak pada guru.
8. Metode pembelajaran menggunakan meode menemukan, memecahkan masalah dan teknik diskusi.
9. Pengajaran matematika lebih hidup dan menarik.
3. Pembelajaran Matematika Pertengahan II (1984-1994)
Pembelajaran matematika masa kini adalah pembelajaran era 1980-an. Hal ini merupakan gerakan revolusi matematika kedua, walaupun tidak sedahsyat pada revolusi matematika pertama atau matematika modern. Pengajaran matematika diluar negeri ditandai oleh beberapa hal yaitu adanya kemajuan teknologi muthakir seperti kalkulator dan komputer.
Perkembangan matematika di luar negeri tersebut berpengaruh terhadap matematika dalam negeri. Di dalam negeri, tahun 1984 pemerintah melaunching kurikulum baru, yaitu kurikulum tahun 1984. Alasan dalam menerapkan kurikulum baru tersebut antara lain, adanya sarat materi, perbedaan kemajuan pendidikan antar daerah dari segi teknologi, adanya perbedaan kesenjangan antara program kurikulum di satu pihak dan pelaksana sekolah serta kebutuhan lapangan dipihak lain, belum sesuainya materi kurikulum dengan tarap kemampuan anak didik.
CBSA (cara belajar siswa aktif) menjadi karakter yang begitu melekat erat dalam kurikulum tersebut. Dalam kurikulum ini siswa di sekolah dasar diberi materi aritmatika sosial, sementara untuk siswa sekolah menengah atas diberi materi baru seperti komputer. Hal lain yang menjadi perhatian dalam kurikulum tersebut, adalah bahan bahan baru yang sesuai dengan tuntutan di lapangan, permainan geometri yang mampu mengaktifkan siswa juga disajikan dalam kurikulum ini.
Sementara itu langkah-langkah agar pelaksanaan kurikulum berhasil adalah melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Guru supaya meningkatkan profesinalisme.
2. Dalam buku paket harus dimasukkan kegiatan yang menggunakan kalkulator dan computer.
3. Sikronisasi dan kesinambungan pembelajaran dari sekolah dasar dan sekolah lanjutan.
4. Pengevaluasian hasil pembelajaran.
5. Prinsip CBSA di pelihara terus.
4. Pembelajaran Matematika Kekinian(1994-1999)
Kegiatan matematika internasional begitu marak di tahun 90-an. Walaupun hal itu bukan hal yang baru sebab tahun tahun sebelumnya kegiatan internasional seperti olimpiade matematika sudah berjalan beberapa kali. Sampai tahun 1977 saja sudah 19 kali diselenggarakan olimpiade matematika internasional. Saat itu Yugoslavia menjadi tuan rumah pelaksanaan olimpiade, dan yang berhasil mendulang medali adalah Amerika, Rusia, Inggris, Hongaria, dan Belanda.
Indonesia tidak ketinggalan dalam pentas olimpiade tersebut namun jarang mendulang medali. (tahun 2004 dalam olimpiade matematika di Athena, lewat perwakilan siswa SMU 1 Surakarta atas nama Nolang Hanani merebut medali). Keprihatinan tersebut diperparah dengan kondisi lulusan yang kurang siap dalam kancah kehidupan. Para lulusan kurang mampu dalam menyelsaikan problem-probelmke hidupan dan lain sebagainya. Dengan dasar inilah pemerintah berusaha mengembangkan kurikulum baru yang mampu membekali siswa berkaitan dengan problem-solving kehidupan. Lahirlah kurikulum tahun 1994.
Dalam kurikulm tahun 1994, pembelajaran matematika mempunyai karakter yang khas, struktur materi sudah disesuaikan dengan psikologi perkembangan anak, materi keahlian seperti komputer semakin mendalam, model-model pembelajaran matematika kehidupan disajikan dalam berbagai pokok bahasan. Intinya pembelajaran matematika saat itu mengedepankan tekstual materi namun tidak melupakan hal-hal kontekstual yang berkaitan dengan materi. Soal cerita menjadi sajian menarik disetiap akhir pokok bahasan, hal ini diberikan dengan pertimbangan agar siswa mampu menyelesaikan permasalahan kehidupan yang dihadapi sehari-hari.
5. Pembelajaran Matematika Sekarang (1999-Sekarang)
Setelah beberapa dekade dan secara khusus sepuluh tahun berjalan dengan kurikulum 1994, pola-pola lama bahwa guru menerangkan konsep, guru memberikan contoh, murid secara individual mengerjakan latihan, murid mengerjakan soal-soal pekerjaan rumah hanya kegiatan rutin saja disekolah, sementara bagaimana keragaman pikiran siswa dan kemampuan siswa dalam mengungkapkan gagasannya kurang menjadi perhatian. Para siswa umumnya belajar tanpa ada kesempatan untuk mengkomunikasikan gagasannya, mengembangkan kreatifitasnya. Jawaban soal seolah membatasi kreatifitas dari siswa karena jawaban benar seolah-olah hanya otoritas dari seorang guru.
Pembelajaran seperti paparan di atas akhirnya hanya menghasilkan lulusan yang kurang terampil secara matematis dalam menyelesaikan persoalah-persoalan seharai-hari. Bahkan pembelajaran model di atas semakin memunculkan kesan kuat bahwa matematika pelajaran yang sulit dan tidak menarik.
Tahun 2004 pemerintah melaunching kurikulum baru dengan nama kurikulum berbasis kompetesi. Secara khusus model pembelajaran matematika dalam kurikulum tersebut mempunyai tujuan antara lain:
1. Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkankesamaan, perbedaan, konsistensi dan iskonsistensi.
2. Mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.
3. Mengembangkan kemampuan memcahkan masalah.
4. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan.
Sementara itu secara umum prinsip dasar dari kurikulum tersebut adalah bahwa setiap siswa mampu mempelajari apa saja hanya waktu yang membedakan mereka dalam ketuntasan belajar. Siswa tidak diperkenankan mengikuti pelajaran berikutnya sebelum menuntaskan pelajaran sebelumnya. Dengan demikian remedial-remedial akan seringa dijumpai terutama siswa yang sering tidak tuntas dalam belajarnya.
Pada masa ini juga muncul kurikulum baru, yaitu KTSP. Dalam kurikulum ini model pembelajarannya hampir sama dengan kurikulum KBK. Bedanya krikulum ini pmerintah hanya menyediakan standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam setipa pelajaran. Guru diberikan wewenang bagaimana cara pembelajarannya, asal tetap mengacu terhadap standar kompetensi dan kompetensi dasar yang sudah ditetapkan.

D. Pembelajaran Matematika Masa Depan
Dari penjelasan diatas mengenai perkembangan pembelajaran matematika dalam setiap kurikulum menunjukan adanya kekurangan, meskipun disatu sisi perkembangan pembelajaran matematika tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran matematika dalam kurikulum sebelumnya. Sehingga dari itu semua dapat dijadikan refleksi pembelajaran matematika untuk masa depan.
Dalam upaya mencapai keinginan dan harapan itu, serangkaian kebijakan dan reformasi di bidang pendidikan, khususnya pembelajaran makin terus dikembangkan. Salah satunya melalui efektifitas pembelajaran pendidikan matematika di sekolah-sekolah diarahkan kepada wahana pendidikan untuk mengembangkan semua potensi yang dimiliki peserta didik dalam bentuk pengetahuan, kemampuan dan keterampilan dasar matematika agar setiap orang yang mempelajari matematika menjadi warga negara yang melek matematika.
Pada akhir abad 21, organisasi pendidikan se dunia, yaitu UNESCO telah menetapkan empat pilar utama pendidikan, yakni learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together in peace and harmony. Keempat pilar tersebut bukan merupakan suatu urutan, melainkan saling melengkapi satu dengan yang lainnya, sehingga dalam pembelajaran di tiap jenjang pendidikan guru dapat menciptakan suasana belajar yang memuat keempat pilar tersebut secara bersama-sama dan seimbang.
1. Melalui proses learning to know, secara umum siswa diharapkan memiliki pemahaman dan penalaran terhadap produk dan proses matematika (apa, bagaimana, dan mengapa) yang memadai sebagai bekal melanjutkan studinya dan atau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Proses learning to do diharapkan memberi kesempatan kepada siswa memiliki keterampilan dan mendorong siswa mau melaksanakan proses matematika dalam bentuk doing math yang memadai dan memacu peningkatan perkembangan intelektualnya. Beberapa alasan mengapa belajar matematika melakukan proses learning to do. Pertama, pembelajaran matematika berorientasi pada pendekatan konstruktivisme, di mana siswa membentuk pengetahuannya sendiri melalui proses asimilasi dan akomodasi. Kedua, pada dasarnya matematika merupakan proses yang aktif baik secara fisik maupun mental, proses dinamik, dan proses generatif.
3. Dalam melaksanakan proses matematika (doing math) secara bersamaan, siswa diharapkan pula menghayati pilar ketiga, yaitu learning to be. Selanjutnya, dengan learning to be siswa diharapkan memahami, menghargai atau mempunyai apresiasi terhadap nilai-nilai dan keindahan akan produk dan proses matematika yang ditunjukkan melalui sikap yang ulet, bekerja keras, sabar, disiplin dan percaya diri.
4. Pelaksanaan belajar matematika yang berorientasi pada learning to do dan learning to be, baik dalam bentuk belajar kelompok, atau klasikal merupakan latihan belajar dalam suasana learning to live together in peace and harmony. Penciptaaan suasana belajar yang demikian menurut pilar keempat ini memberi kesempatatan kepada siswa untuk dapat belajar dan bekerja sama, saling menghargai pendapat orang lain, menerima pendapat yang berbeda, belajar mengemukakan pendapat dan atau bersedia sharing ideas dengan orang lain dalam melaksanakan tugas-tugas matematika, khususnya tugas-tugas lain yang lebih luas. Dengan kata lain, suasana belajar matematika yang berorientasi pada pilar learning to live together in peace and harmony diharapkan bahwa siswa mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dalam matematika.

Jadi pembelajaran matematika masa depan itu adalah pembelajaran yang dimana setelah siswa diajari, siswa itu dapat mengerti ranah epistimologi, ontologi dan aksiologi dari matematika. Sehingga mereka memandang matematika tidak hanya sebagai kumpulan rumus, aksioma-aksioma logis, simbol-simbol dan lain sebagzinya. Tetapi mereka benar-benar bisa mengerti aplikasi dari matematika setelah mereka faham betul matematika. Tentunya pembelajaran tersebut tetap memperhatikan perkembangan zaman (teknologi).















KESIMPULAN
Untuk mengetahui pembelajaran di indonesia, sebelumnya perlu diketahui sejarah pendidikan di indonesia, sebab pembelajaran itu merupakan bagian dari pendidikan. Dalam setiap perkembangan pendidikan kemungkinan akan diiringi perkembangan kurikulum juga, sebab yang menjadi acuan dalam sebuah pendidikan adalah kurikulumnya. Di indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan kurikulum dari tahun ke tahun. Perubahan tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki kurikulum sebelumnya. Jadi adanya perubahan kurikulum itu disebabkan adanya keinginan untuk memperbaiki pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Artinya semakin maju zamannya diharapkan pendidikannya juga semakin maju. Begitu juga dengan pembelajaran matematika.
Secara singkat perkembangan sejarah pendidikan di Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Masa kolonial belanda.
2. Masa penjajahan jepang.
3. Masa kemerdekaan.
4. Masa Orde baru ( Soeharto).
5. Masa reformasi.
Kemudian untuk perkembangan kurikulum di Indonesia secara garis besar sebagi berikut :
1. Kurun waktu 1945 sampai 1968
· Rencana Pelajaran 1947
· Rencana Pelajaran Terurai 1952
2. Kurun waktu tahun 1968 sampai tahun 1999
· Kurikulum 1968
· Kurikulum 1975
· Kurikulum 1984
· Kurikulum 1994 Dan Suplemen Kurikulum 1999
3. Kurun waktu 1999 sampai sekarang
· Kurikulum 2004
· Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP)
Kemudian untuk perkembangan pembelajaran matematika dapat dirinci sebagai berikut:
1. Pembelajaran Matematika Pertama (1947-1974)
2. Pembelajaran Matematika Pertengahan I (1975-1984)
3. Pembelajaran Matematika Pertenganhan II (1984-1994)
4. Pembelajaran Matematika kekinian (1994-1999)
5. Pembelajaran Matematika Sekarang (1999-Sekarang)
Sebagai refleksi dari perkembangan pembelajaran matematika, maka pembelajaran matematika untuk masa depan adalah yam menempatkan emat pilar yaitu pembelajaran matematika dengan konsep:
1. Learning to know.
2. Learning to do.
3. Learning to be.
4. Learning to live together in peace and harmony.
Sehingga degan emapat konsep tadi siswa bena-benar faham rananh epistimologi, ontologi dan aksiologi dari matematika tanpa melupakan perkembangan zaman (teknologi).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar